Ap.umsida.ac.id – Isu pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan semakin menjadi perhatian di tengah pesatnya dinamika pembangunan daerah.
Menjawab tantangan tersebut, Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) melalui Divisi Edukasi dan Advokasi menyelenggarakan Forum Mahasiswa Berdiskusi (FORMASI) 3.0 dalam bentuk lokakarya bertema “Ekonomi Politik Hijau: Menuju Pembangunan Berkelanjutan yang Responsif di Kabupaten Sidoarjo.”
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (17/04/2026) di Kampus 1 Umsida ini diikuti oleh 95 peserta, mayoritas mahasiswa Administrasi Publik semester 2, serta terbuka untuk umum.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam setiap sesi diskusi yang berlangsung dinamis dan interaktif.
FORMASI 3.0 menghadirkan pemateri dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur.
Kedua narasumber tersebut memberikan perspektif yang komprehensif antara kebijakan pemerintah dan pandangan masyarakat sipil terkait pembangunan berkelanjutan.
Baca juga: Harga Plastik Melonjak, Pakar Umsida Soroti Rapuhnya Industri Nasional
Pembangunan Berkelanjutan Harus Berbasis Lingkungan dan Sosial

Dalam pemaparannya, perwakilan Bappeda Kabupaten Sidoarjo menjelaskan bahwa proses penyusunan dokumen perencanaan daerah telah mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan.
Hal ini didasarkan pada kajian yang bersumber dari dinas lingkungan hidup sebagai dasar perumusan kebijakan.
“Pembuatan dokumen perencanaan daerah itu berbasis pada pembangunan berkelanjutan dan bersumber dari kajian lingkungan hidup,” jelas Nawang selaku Kepala Bidang Rendelev Litbang.
Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah terus berupaya mengarahkan kebijakan pembangunan agar tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan sosial secara seimbang.
Pendekatan ini dinilai penting, terutama bagi Kabupaten Sidoarjo yang dikenal sebagai kawasan industri.
Tanpa perencanaan yang matang, pembangunan berisiko menimbulkan dampak negatif seperti pencemaran lingkungan dan ketimpangan sosial.
Lihat juga: Banjir Tak Kunjung Usai, Mahasiswa Administrasi Publik Umsida Desak DPRD Bertindak
Peran Masyarakat Jadi Kunci dalam Kebijakan Lingkungan
Sementara itu, pemateri dari WALHI Jawa Timur menyoroti pentingnya pembangunan ruang terbuka hijau serta keterlibatan masyarakat dalam setiap proses kebijakan publik.
Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada industri dan pertumbuhan ekonomi semata.
“Pembangunan harus melibatkan peran masyarakat karena kebijakan publik berdampak langsung pada kehidupan mereka,” ujar Romi.
Ia menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi krusial dalam memastikan kebijakan yang diambil tidak merugikan lingkungan maupun masyarakat dalam jangka panjang.
Selain itu, salah satu peserta, Eliza, juga menyampaikan pandangannya terkait pentingnya kolaborasi lintas sektor.
“Dalam pembangunan ekonomi politik hijau, diperlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran mahasiswa terhadap isu pembangunan berkelanjutan semakin meningkat.
Mahasiswa Didorong Jadi Agen Perubahan Pembangunan Daerah

Ketua pelaksana kegiatan, Arin, menjelaskan bahwa FORMASI 3.0 diinisiasi sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas berpikir kritis mahasiswa terhadap isu-isu pembangunan daerah.
“Tema ekonomi politik hijau dipilih karena mampu melihat pembangunan secara lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga relasi kekuasaan, kebijakan, serta dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang dapat memberikan gagasan serta mengawal kebijakan publik secara konstruktif.
Diskusi yang berlangsung selama kegiatan menunjukkan tingginya kepedulian mahasiswa terhadap isu pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sidoarjo.
Peserta aktif menyampaikan pertanyaan, kritik, hingga rekomendasi terhadap berbagai persoalan yang diangkat.
Melalui FORMASI 3.0, diharapkan mahasiswa tidak hanya memahami konsep ekonomi politik hijau secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata.
Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya pembangunan yang inklusif, responsif, dan berkelanjutan.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan terus dilakukan sebagai ruang diskusi yang mendorong mahasiswa menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah.
Penulis: Tisya Intan
Penyunting: Indah Nurul Ainiyah


















