Ap.umsida.ac.id – Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik (HIMMAPIK) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kembali menorehkan prestasi melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026.
Tim yang diketuai oleh Risqi Amirulloh atau yang akrab disapa Amir ini berhasil lolos pendanaan dengan program bertajuk “Integrasi Bio Circular Agro Estate melalui Rekayasa Tata Kelola Publik guna Mewujudkan Desa Kesiman Wirausaha Mandiri Sampah”.
Program tersebut dibimbing oleh dosen program studi psikologi Umsida, Widyastuti MPsi Psikolog.
Program ini berangkat dari persoalan sampah yang masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
Selain menjadi salah satu negara penghasil sampah terbesar di dunia, pemerintah juga telah menetapkan target pengurangan sampah sebesar 30 persen dan penanganan sampah 70 persen pada tahun 2025 melalui berbagai kebijakan nasional.
Di tingkat desa, persoalan tersebut juga dirasakan oleh masyarakat Desa Kesiman yang menjadi lokasi pelaksanaan program.
Ketua tim, Amir, menjelaskan bahwa kondisi pengelolaan sampah di Desa Kesiman menjadi alasan utama tim memilih tema tersebut.

“TPS3R Desa Kesiman menghasilkan 3 hingga 4 ton sampah setiap minggu. Sekitar 60 persen di antaranya berupa sampah residu yang sulit ditangani dan terus menumpuk,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Kondisi ini mendorong kami mencari solusi yang tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat,”.
Desa Kesiman dan Potensi Besar yang Dimilikinya
Desa Kesiman dipilih bukan tanpa alasan. Terletak di kawasan lereng Gunung Arjuno-Welirang dan Penanggungan, desa ini memiliki sumber daya alam yang melimpah serta mayoritas masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan air tawar.

Di sisi lain, pemerintah desa juga menunjukkan komitmen kuat dalam membenahi persoalan lingkungan yang ada.
Amir menjelaskan bahwa konsep Bio Circular Agro Estate yang diusung tim berangkat dari gagasan ekonomi sirkular, yaitu memanfaatkan setiap sumber daya agar tidak ada yang terbuang sia-sia.
“Konsep ini lahir dari keyakinan bahwa sampah yang selama ini dianggap sebagai beban sebenarnya memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan pendekatan yang tepat,” jelasnya.
Saat melakukan survei lapangan pada Januari 2026, tim menemukan berbagai persoalan yang cukup serius.
TPS3R desa harus menangani hingga 4 ton sampah per minggu dengan hanya enam tenaga pengelola.
Situasi semakin sulit karena mesin insinerator yang sebelumnya digunakan untuk mengelola sampah residu mengalami kerusakan total sehingga sampah terus menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap.
Lihat juga: Abdimas Umsida Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas Lewat Literasi Keuangan dan Modal
Mengubah Sampah Menjadi Sumber Pendapatan Desa
Melalui program ini, tim HIMMAPIK Umsida tidak hanya berfokus pada pengurangan sampah, tetapi juga membangun sistem ekonomi desa yang berkelanjutan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah menghadirkan kembali teknologi insinerator untuk mengurangi volume sampah residu hingga 40 persen.
Abu hasil pembakaran nantinya akan diolah menjadi paving block yang memiliki nilai jual dan dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Selain itu, tim juga mengembangkan teknologi biokonversi maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk mendukung sektor peternakan dan perikanan.
Teknologi ini diharapkan mampu menekan biaya pakan sekaligus menghasilkan pupuk kasgot yang memiliki nilai ekonomi.
“Kami ingin membangun ekosistem usaha desa yang terintegrasi, akuntabel, dan mampu dikelola secara mandiri oleh masyarakat melalui BUMDes,” kata Amir.
Membangun Desa Percontohan Berbasis Tata Kelola Publik

Sebagai mahasiswa Administrasi Publik, tim melihat persoalan sampah tidak hanya dari aspek lingkungan, tetapi juga dari perspektif tata kelola publik.
Menurut Amir, keberhasilan program sangat ditentukan oleh kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Untuk itu, program akan diawali dengan sosialisasi, pelatihan teknis, hingga pendampingan operasional secara berkala.
Masyarakat juga akan diajak terlibat langsung dalam berbagai kegiatan seperti budidaya maggot, pengolahan sampah menggunakan insinerator, hingga produksi paving block.
Tantangan terbesar yang diperkirakan muncul adalah mengubah kebiasaan masyarakat dan memastikan keberlanjutan program setelah mahasiswa selesai menjalankan pendampingan.
Karena itu, tim akan membentuk kader lokal, memperkuat kelembagaan BUMDes, serta menyusun standar operasional yang dapat dijalankan secara mandiri.
“Harapan kami, ketika program selesai, Desa Kesiman sudah memiliki sistem pengelolaan sampah yang berjalan mandiri, lingkungan yang lebih bersih, serta mampu menjadi desa percontohan Bio Circular Agro Estate bagi desa-desa lain di Indonesia,” pungkas Amir.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















