Ap.umsida.ac.id – Wisata Bahari Tlocor bukan sekadar destinasi pesisir. Ia menyimpan cerita tentang kolaborasi, budaya, dan keberlanjutan.
Cerita itu menjadi fokus disertasi Hendra Sukmana. Ia merupakan dosen Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Hendra sukses mengikuti ujian terbuka promosi doktoral. Ujian tersebut digelar pada Program Doktor Administrasi Publik. Program ini berada di FISIP Universitas Hang Tuah.
Dalam disertasinya, Hendra membahas kolaborasi governance. Fokusnya ialah pengembangan Wisata Bahari Tlocor berkelanjutan.
Kawasan ini berada di Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo. Penelitian tersebut melihat wisata sebagai urusan bersama.
Karena itu, pengelolaannya membutuhkan kerja multipihak yang terarah.
Baca juga: Ruang Mengabdi HIMMAPIK Umsida Wujudkan Kolaborasi Hijau Mahasiswa dan Warga Tanjek Wagir
Tlocor Butuh Tata Kelola

Wisata Bahari Tlocor berada di Dusun Tlocor. Kawasan ini masuk Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon.
Destinasi tersebut berkembang di sekitar Pulau Lusi. Pulau ini terbentuk dari sedimentasi Lumpur Sidoarjo.
Keunikan tersebut memberi daya tarik ekologis dan historis. Tlocor juga menyimpan potensi wisata edukatif.
Namun, potensi itu belum cukup dengan promosi. Pengelolaan kawasan membutuhkan tata kelola yang kuat.
Hendra melihat banyak aktor terlibat dalam pengembangan Tlocor. Mereka meliputi pemerintah pusat, daerah, desa, dan BUMDes. Ada pula Pokdarwis, masyarakat, perguruan tinggi, keamanan, dan swasta.
“Pengembangan Tlocor tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Semua pihak perlu berbagi peran secara jelas,” ujar Hendra.
Menurutnya, wisata bahari bersinggungan dengan banyak kewenangan. Karena itu, kolaborasi perlu dibangun secara konsisten.
Lihat juga: Temu Alumni FBHIS Umsida Perkuat Sinergi dan Jejaring Lulusan
Budaya Lokal Jadi Kekuatan
Temuan menarik penelitian ini terletak pada budaya lokal.

Hendra menyebutnya sebagai new local cultural values. Nilai itu menjadi penguat kolaborasi masyarakat pesisir.
Nilai tersebut mencakup harmonisasi budaya Jawa dan Madura.
Ada pula gotong royong dan rasa memiliki bersama. Pola relasi kekeluargaan juga terlihat kuat.
Budaya lokal membuat masyarakat lebih mudah terlibat. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat wisata. Mereka ikut menjaga kawasan dan mendukung pengelolaan.
Dalam konteks ini, budaya bukan sekadar latar sosial. Budaya justru menjadi energi yang menggerakkan kolaborasi.
Rasa memiliki warga menjadi modal penting. Tanpa itu, program wisata mudah berhenti administratif.
Model Wisata Lebih Berkelanjutan
Hasil penelitian menunjukkan kolaborasi Tlocor terus berkembang. BUMDes berperan sebagai pengelola utama kawasan. Sementara Pokdarwis menjalankan tugas teknis lapangan.
Pemerintah memberi dukungan melalui regulasi dan fasilitas. Kementerian Kelautan dan Perikanan membangun dermaga Pulau Lusi.
Pihak swasta turut memberi dukungan sarana wisata. Perguruan tinggi hadir melalui pendampingan masyarakat.
Meski begitu, penelitian ini mencatat beberapa tantangan penting. Koordinasi lintas sektor belum sepenuhnya berjalan kuat.
Kewenangan antarinstansi juga masih perlu diselaraskan. Konservasi lingkungan membutuhkan sistem lebih terarah. Pengelolaan limbah dan daya dukung perlu diperkuat.
Dari sisi ekonomi, wisata membuka ruang usaha warga. Pelaku UMKM, operator perahu, dan pedagang ikut bergerak.
Dari sisi sosial, partisipasi masyarakat menjadi semakin penting.
Dari sisi lingkungan, mangrove dan Pulau Lusi perlu dijaga. Ketiganya harus berjalan dalam satu arah kebijakan.
Hendra kemudian menawarkan model collaborative governance integratif. Model ini memadukan kepemimpinan kolaboratif dan budaya lokal.
Karena itu, rekomendasi Hendra menekankan forum koordinasi rutin. Ia juga mendorong penguatan BUMDes dan regenerasi Pokdarwis.
Melalui model tersebut, Tlocor diharapkan tumbuh seimbang. Wisata dapat menggerakkan ekonomi, sosial, dan konservasi.
Penelitian ini menegaskan satu pesan penting. Wisata berkelanjutan membutuhkan sinergi, bukan kerja sendiri.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















