Ap.umsida.ac.id – Program Student Mobility di Burapha University (BUU), Thailand, menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (AP Umsida) untuk mempelajari sistem pendidikan tinggi di luar negeri.
Tidak hanya mengikuti berbagai kegiatan akademik, mahasiswa juga memperoleh pengalaman membandingkan kurikulum Administrasi Publik di Thailand dengan yang diterapkan di Indonesia.
Program yang diikuti lima delegasi Umsida, terdiri atas tiga mahasiswa Administrasi Publik dan dua mahasiswa Hukum, menghadirkan beragam aktivitas, mulai dari kunjungan ke fakultas, observasi proses pembelajaran, hingga diskusi bersama dosen dan mahasiswa Burapha University.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana perguruan tinggi di Thailand membangun sistem pembelajaran yang lebih spesifik sesuai bidang keilmuan.
Bagi mahasiswa AP Umsida, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran baru yang memperluas perspektif mengenai pengembangan kurikulum Administrasi Publik di tingkat internasional.
Pembelajaran Lebih Fokus Sejak Awal

Salah satu agenda utama dalam student mobility adalah kunjungan ke lingkungan akademik Burapha University.
Delegasi Umsida diajak mengunjungi Fakultas Hukum dan Fakultas Political Science, mengenal ruang perkuliahan, fasilitas pembelajaran, serta berinteraksi langsung dengan mahasiswa setempat.
Berbeda dengan sekadar kunjungan kampus, kegiatan ini dirancang menyerupai study camp.
Mahasiswa Thailand mendampingi peserta Umsida selama kegiatan sehingga tercipta ruang diskusi yang lebih santai dan interaktif.
Mediana, mahasiswa Administrasi Publik Umsida yang mengikuti program tersebut, mengungkapkan bahwa sistem pembelajaran di Burapha University memberikan kesan yang berbeda dibandingkan dengan pengalaman yang ia temui selama kuliah.
“Yang paling menarik bagi saya adalah pembelajarannya sangat terstruktur.
Mahasiswa benar-benar diarahkan sesuai bidang ilmunya, sehingga materi yang dipelajari terasa lebih fokus dan mendalam,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa Administrasi Publik di Burapha University sudah mempelajari bidang-bidang yang lebih spesifik, seperti kebijakan publik dan hukum administrasi negara, sehingga kompetensi yang dibangun menjadi semakin terarah.
Lihat juga: Jangan Cuma Kejar IPK, Maba Perlu Bangun Pengalaman Sejak Awal
Menjadi Ruang Refleksi Akademik
Perbedaan pendekatan pembelajaran tersebut menjadi bahan diskusi menarik antara mahasiswa Indonesia dan Thailand.
Mereka saling bertukar pengalaman mengenai struktur kurikulum, metode pembelajaran, hingga tantangan yang dihadapi selama menempuh pendidikan tinggi.
Kaprodi Administrasi Publik Umsida, Ilmi Usrotin Choiriyah MAP, menilai pengalaman membandingkan sistem pendidikan merupakan bagian penting dalam membentuk cara berpikir mahasiswa Administrasi Publik.
“Program student mobility memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana perguruan tinggi di negara lain mengembangkan kurikulum dan proses pembelajaran,” terangnya.
“Pengalaman ini menjadi ruang refleksi agar mahasiswa memiliki perspektif yang lebih luas terhadap perkembangan keilmuan Administrasi Publik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa setiap negara memiliki pendekatan yang berbeda dalam menyusun kurikulum.
Perbedaan tersebut bukan untuk dibandingkan mana yang lebih baik, melainkan menjadi inspirasi dalam memahami berbagai model pendidikan yang berkembang di dunia.
Membangun Perspektif Administrasi Publik Global
Selain mempelajari sistem pembelajaran, mahasiswa juga memperoleh pengalaman berdiskusi mengenai isu-isu administrasi publik bersama mahasiswa Burapha University.
Interaksi tersebut membuat mereka memahami bahwa tantangan tata kelola pemerintahan di berbagai negara memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan yang beragam pula.
Dekan Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial Umsida, Dr Poppy Febriana SSos MMedKom, menilai pengalaman internasional menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi dinamika sektor publik yang semakin kompleks.
“Mahasiswa Administrasi Publik perlu memiliki perspektif global agar mampu melihat berbagai praktik tata kelola pemerintahan dari sudut pandang yang lebih luas,” terangnya.
“Pengalaman belajar bersama mahasiswa dari negara lain akan memperkaya cara berpikir, meningkatkan kemampuan komunikasi, sekaligus memperkuat kesiapan mereka menghadapi tantangan di masa depan,” tuturnya.
Melalui program Student Mobility ini, AP Umsida tidak hanya memberikan pengalaman belajar di luar negeri, tetapi juga membangun karakter mahasiswa yang adaptif, terbuka terhadap perbedaan, dan mampu mengambil pelajaran dari praktik pendidikan internasional.
Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal untuk melahirkan lulusan Administrasi Publik yang memiliki kompetensi akademik sekaligus wawasan global dalam menghadapi perkembangan tata kelola pemerintahan di era modern.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















