Smart Governance Butuh ASN yang Terus Belajar saat Kesiapan Digital Sidoarjo Belum Merata

Ap.umsida.ac.id – Transformasi layanan publik berbasis digital sering dipahami sebatas aplikasi.

Padahal, penelitian dosen Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Ahmad Riyadh Umar Balahmar SH MSi PhD, menunjukkan bahwa faktor manusianya masih menjadi “bottleneck” yang nyata.

Studi berjudul Readiness and Organizational Communication Climate of Sidoarjo District Government in Implementing Smart Governance ini menguji 117 responden dari sembilan organisasi perangkat daerah (OPD) dan menemukan bahwa kesiapan serta iklim komunikasi organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap smart governance, dengan kontribusi penjelasan 66,5 persen.

Temuan itu penting karena mengurai kesiapan organisasi ke empat dimensi, teknologi, inovasi, sumber daya manusia (SDM), dan pengembangan diri (self-development).

Di titik inilah problem klasik birokrasi digital muncul: perangkat dan program berjalan, tetapi kemampuan belajar dan adaptasi ASN belum seragam.

Baca juga: Transparansi Data Publik: Fondasi Kepercayaan dan Akuntabilitas Pemerintah

Kesiapan Tinggi di Teknologi, Tertahan di Pengembangan Diri
Sumber: Ilustrasi AI

Dalam hasil uji parsial, kesiapan memang berkontribusi pada penerapan smart governance. Namun gap antar-dimensi terlihat jelas.

Penelitian mencatat pengaruh indikator kesiapan pada smart governance, “technology (79%), innovation (81%), human resources (HR) (80%), and self-development (52%).”

Angka 52 persen pada self-development adalah sinyal paling keras bahwa yang tertinggal bukan sekadar jaringan atau perangkat, melainkan kebiasaan belajar.

Secara praktis, ketimpangan ini menimbulkan efek domino. OPD bisa saja punya aplikasi dan SOP, tetapi bila pengembangan kapasitas tidak dianggap pekerjaan inti, kualitas input data, konsistensi pelayanan, dan kemampuan troubleshooting akan timpang antar unit.

Hasilnya bukan sekadar layanan lambat, melainkan layanan yang tidak dipercaya warga karena tidak stabil.

Padahal Sidoarjo sudah memiliki inovasi, dari SIPRAJA untuk layanan publik hingga E-Kinerja yang memudahkan pelaporan kinerja ASN.

Penelitian juga mencatat masih ada tantangan pemanfaatan aplikasi oleh masyarakat karena literasi digital dan akses yang belum merata.

Kondisi ini membuat kebutuhan peningkatan kapasitas ASN menjadi dobel, melayani warga sekaligus menjadi “pemandu” penggunaan layanan digital.

Lihat juga: Paradoks Keterbukaan di Desa: Ketika Komunikasi Justru Menurunkan Kualitas Layanan

Mengapa Self Development Menjadi Titik Kritis Birokrasi Digital

Penelitian ini memaknai smart governance sebagai penerapan e-government melalui komputer, website, dan aplikasi untuk mendukung proses pemerintahan.

Artinya, pekerjaan ASN bergeser dari administrasi manual ke kerja berbasis sistem, data, dan koordinasi.

Di fase ini, menurutnya, “The success of implementing smart governance depends on the readiness of resources and infrastructure as well as a conducive communication climate.”

Kesiapan sumber daya bukan hanya jumlah pegawai, tetapi kompetensi yang terus diperbarui.

Self-development adalah jantungnya karena teknologi berubah cepat, sementara birokrasi cenderung bergerak lambat.

Tanpa budaya belajar, pelatihan menjadi seremonial, inovasi berhenti pada tahap launching, dan aplikasi tidak dimanfaatkan maksimal oleh internal maupun masyarakat.

Lebih jauh, kapasitas belajar juga menentukan kemampuan kolaborasi lintas OPD syarat wajib ketika layanan harus terintegrasi, bukan sekadar berjalan sendiri-sendiri.

Dari Pelatihan Sekali Jadi ke Sistem Belajar Berkelanjutan

Kesimpulan penelitian menegaskan kesiapan yang memengaruhi smart governance mencakup teknologi, inovasi, SDM, dan pengembangan diri ASN.

Implikasinya jelas: pemerataan digital tidak cukup dengan menambah aplikasi; yang harus dibangun adalah sistem belajar di dalam organisasi.

Langkah realistisnya bisa dimulai dari aturan jam belajar mingguan, microlearning singkat yang terkait tugas, serta mentoring internal antar pegawai yang sudah mahir aplikasi tertentu.

Evaluasi kinerja juga perlu menilai kemampuan adaptasi, bukan hanya output layanan, tetapi juga peningkatan kompetensi.

Saat self-development naik, investasi teknologi tidak lagi menjadi beban, melainkan alat yang dipakai untuk mempercepat layanan, memperbaiki akurasi, dan menjaga kepercayaan publik pada setiap OPD, dari level desa hingga kabupaten.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Bertita Terkini

Smart City di Indonesia, Langkah Menuju Pelayanan Publik yang Lebih Modern
July 13, 2026By
https://magicalgsh.com/
Empocare Tim P2MW Umsida Kenalkan Jamu Modern di Wisuda ke-47 Melalui Penjualan Perdana
July 5, 2026By
AP CUP 2026 Jadi Panggung Sportivitas dan Pembinaan Karakter Pelajar Jawa Timur Berprestasi
July 1, 2026By
Kolaborasi Dinas Koperasi dan Prodi AP Umsida Siapkan UMKM agar Usaha Lebih Berdaya Saing
June 27, 2026By
HIMAAPIK Umsida dan HIMA AP Juara Bangun Sinergi lewat Studi Banding
June 23, 2026By
MBG Jadi Ujian Besar Implementasi Kebijakan Publik di Indonesia
June 19, 2026By
Dari Empon Empon Jadi Peluang Bisnis Empocare Umsida Tembus Pendanaan P2MW 2026
June 15, 2026By
Chitra Vistara HIMMAPIK Umsida Ajak Pelajar Suarakan Isu Publik Lewat Infografis Kreatif
June 11, 2026By

Prestasi

Berawal dari Latihan Intensif, Mahasiswa AP Umsida Tembus Final Kejuaraan Taekwondo
July 9, 2026By
Vivi Nabila Taklukkan Rasa Minder dan Raih Emas Paku Bumi Open 2026
April 15, 2026By
Kembali ke Gelanggang Usai Vakum, Mahasiswa Umsida Raih Emas Nasional 2026
April 10, 2026By
Karate Challenge: Mahasiswa Administrasi Publik Umsida Tembus Prestasi Ganda
January 10, 2026By
Vivi Nabila Persembahkan Perunggu UPSCC III 2025 dan Tantang Diri Bangkit Lagi
January 6, 2026By
Konsistensi Latihan Bawa Ahmad Dhani Fauzi Raih Perak Taekwondo
January 2, 2026By
Elok, Mahasiswa AP Umsida Raih Perak di Kejuaraan Nasional Taekwondo
December 28, 2025By
Mahasiswa Umsida Sabet Emas Perdana di Kejuaraan Taekwondo KBPP Polri Jatim Cup 3
December 25, 2025By