Banyak Aplikasi, Minim Integrasi? Membaca Kesenjangan Smart Governance di Sidoarjo

Ap.umsida.ac.id – Transformasi digital di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus bergerak.

Berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) telah mengembangkan aplikasi layanan publik, mulai dari SIPRAJA, E-Kinerja, SIKSDA, APDS, hingga sistem pengaduan dan data sektoral.

Namun, di balik geliat inovasi tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah ekosistem aplikasinya sudah terintegrasi dan merata di semua OPD?

Penelitian Ahmad Riyadh UB SH MSi PhD, dosen Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, berjudul “Readiness and Organizational Communication Climate of Sidoarjo District Government in Implementing Smart Governance” menyoroti pentingnya kesiapan organisasi dan iklim komunikasi dalam mewujudkan tata kelola cerdas.

Temuan ini relevan untuk membedah fenomena kesenjangan implementasi antar OPD yang masih terjadi.

Ekosistem Aplikasi yang Belum Merata

Data dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa dari 32 OPD di Sidoarjo, sebanyak 22 OPD telah memiliki inovasi aplikasi digital, sementara 10 OPD lainnya belum memiliki aplikasi inovatif sendiri.

Di satu sisi, angka ini menunjukkan kemajuan. Namun di sisi lain, ia juga memperlihatkan ketimpangan dalam akselerasi digital.

Sebagian OPD telah mengelola layanan publik berbasis digital yang cukup matang, seperti layanan keuangan daerah, pajak, kinerja ASN, hingga pengaduan masyarakat.

Namun, beberapa OPD lain termasuk dinas sosial, perumahan, hingga PDAM belum memiliki aplikasi pendukung yang memadai.

Kesenjangan ini berpotensi menciptakan fragmentasi layanan, di mana pengalaman warga menjadi tidak seragam antar sektor.

Menurutnya hal ini tidak sekadar soal ada atau tidaknya aplikasi, melainkan tentang desain tata kelola digital yang terpadu.

Tanpa integrasi data dan sistem antar OPD, smart governance bisa terjebak pada digitalisasi parsial banyak aplikasi, tetapi tidak saling terhubung.

Baca juga:  Transparansi Data Publik: Fondasi Kepercayaan dan Akuntabilitas Pemerintah

Integrasi Data dan Koordinasi Antar OPD
Sumber: Ilustrasi AI

Penelitian tersebut juga menegaskan bahwa kesiapan dan iklim komunikasi organisasi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap implementasi smart governance dengan kontribusi 66,5 persen.

Artinya, persoalan integrasi bukan hanya isu teknis, tetapi juga budaya organisasi dan koordinasi internal.

Dalam konteks governance design, integrasi data lintas OPD menjadi kunci.

Ketika aplikasi keuangan tidak terhubung dengan perencanaan, atau data kependudukan tidak sinkron dengan layanan sosial, maka pengambilan keputusan berbasis data akan terhambat.

Koordinasi antar unit menjadi kompleks, bahkan berisiko menimbulkan duplikasi atau inkonsistensi kebijakan.

Menurutnya hal ini menunjukkan bahwa smart governance membutuhkan orkestrasi, bukan sekadar inovasi sektoral.

Iklim komunikasi yang terbuka, koordinasi lintas instansi, serta SOP yang jelas menjadi fondasi agar digitalisasi tidak berjalan sendiri-sendiri.

Lihat juga: Paradoks Keterbukaan di Desa: Ketika Komunikasi Justru Menurunkan Kualitas Layanan

Dampak bagi Pengalaman Warga dan Kepercayaan Publik

Bagi masyarakat, fragmentasi sistem dapat terasa dalam bentuk prosedur yang berulang, data yang harus diinput berkali-kali, atau layanan yang tidak sinkron antar dinas.

Dalam jangka panjang, situasi ini bisa memengaruhi persepsi publik terhadap efektivitas pemerintah daerah.

Smart governance sejatinya bertujuan meningkatkan efisiensi, transparansi, dan partisipasi publik.

Namun, jika integrasi belum optimal, maka manfaat tersebut tidak sepenuhnya dirasakan warga.

Alih-alih merasakan kemudahan, masyarakat justru berhadapan dengan kompleksitas baru dalam bentuk aplikasi yang terpisah-pisah.

Menurutnya hal ini menjadi refleksi penting bahwa transformasi digital tidak cukup diukur dari jumlah aplikasi yang diluncurkan.

Lebih dari itu, keberhasilan terletak pada integrasi sistem, pemerataan inovasi antar OPD, serta penguatan komunikasi organisasi agar setiap unit bergerak dalam satu desain tata kelola yang utuh.

Ke depan, tantangan Sidoarjo bukan lagi sekadar menambah aplikasi, melainkan merancang arsitektur smart governance yang terpadu.

Dengan kesiapan sumber daya, infrastruktur, dan iklim komunikasi yang kondusif, kesenjangan implementasi antar OPD dapat diperkecil, sehingga smart governance benar-benar hadir sebagai sistem yang terintegrasi dan berpihak pada pengalaman warga.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Bertita Terkini

Smart Governance Butuh ASN yang Terus Belajar saat Kesiapan Digital Sidoarjo Belum Merata
March 1, 2026By
Ketika Suara Publik Menjadi Arah Kebijakan: Membangun Keputusan yang Lebih Inklusif
February 24, 2026By
Resonansi Cita HIMMAPIK Perkuat Komitmen dan Sinergi Menuju Organisasi Berkelanjutan
February 19, 2026By
Transparansi Data Publik: Fondasi Kepercayaan dan Akuntabilitas Pemerintah
February 14, 2026By
Perkuat Kolaborasi Pemerintah Masyarakat Umsida Luncurkan Laboratorium Mini Desa Gardu Publik
February 9, 2026By
SID Desa Gemurung Tangguh untuk Data namun Rapuh dalam Inovasi dan Keamanan
February 4, 2026By
Kesenjangan Digital Aparatur Desa Gemurung Saat SID Belum Menjadi Mesin Layanan Publik
January 30, 2026By
Dorong Kreativitas Visual Mahasiswa, HIMMAPIK Gelar Workshop Desain Grafis
January 26, 2026By

Prestasi

Karate Challenge: Mahasiswa Administrasi Publik Umsida Tembus Prestasi Ganda
January 10, 2026By
Vivi Nabila Persembahkan Perunggu UPSCC III 2025 dan Tantang Diri Bangkit Lagi
January 6, 2026By
Konsistensi Latihan Bawa Ahmad Dhani Fauzi Raih Perak Taekwondo
January 2, 2026By
Elok, Mahasiswa AP Umsida Raih Perak di Kejuaraan Nasional Taekwondo
December 28, 2025By
Mahasiswa Umsida Sabet Emas Perdana di Kejuaraan Taekwondo KBPP Polri Jatim Cup 3
December 25, 2025By
Pingki Bawa Inovasi P2MW BowBaci hingga Raih Predikat Wisudawan Berprestasi Umsida 46
November 23, 2025By
Fina Raih Wisudawan Berprestasi Umsida 46 Berkat P2MW Inovasi BowBaci Rainbow
November 19, 2025By
Vivi Nabila Sabet Kejuaraan Tapak Suci Airlangga Championship
September 20, 2025By