Ap.umsida.ac.id – Aktivitas organisasi mahasiswa sering kali menjadi ruang pembelajaran yang tidak selalu didapatkan di bangku kuliah.
Di lingkungan Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial (FBHIS), peran organisasi menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk mengasah kepemimpinan, kepekaan sosial, serta kemampuan berkomunikasi.
Salah satu mahasiswa yang aktif menempuh proses tersebut adalah Rony Darminto, mahasiswa Program Studi Administrasi Publik angkatan 2023 yang kini dipercaya sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FBHIS.
Sejak awal masa perkuliahan, Rony menunjukkan ketertarikan besar pada kegiatan organisasi.
Ia menilai organisasi bukan sekadar pelengkap akademik, melainkan ruang belajar yang membentuk karakter dan cara berpikir mahasiswa.

“Selama saya berkuliah di Umsida, saya tertarik bergabung di organisasi karena saya melihat organisasi sebagai ruang belajar yang tidak selalu saya dapatkan di kelas,” ujarnya.
Ketertarikan tersebut membawanya bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik (HIMMAPIK).
Di himpunan, Rony aktif di Divisi Sosial Masyarakat dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang bersentuhan langsung dengan mahasiswa dan masyarakat.
“Saya tertarik masuk organisasi karena ingin belajar bersosialisasi lintas himpunan, tidak hanya di lingkungan prodi, tapi juga di fakultas dan masyarakat luar,” ungkap Rony.
Baca juga: Karate Challenge: Mahasiswa Administrasi Publik Umsida Tembus Prestasi Ganda
Proses Panjang di Himpunan Mahasiswa
Perjalanan Rony di HIMMAPIK tidak berhenti sebagai anggota.
Berkat konsistensi dan keterlibatannya dalam berbagai program kerja, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua HIMMAPIK periode 2024–2025.
Posisi tersebut menjadi titik penting dalam proses kepemimpinannya.
Selama menjabat, Rony dihadapkan pada berbagai dinamika internal organisasi, mulai dari perbedaan pendapat hingga pengelolaan program kerja yang melibatkan banyak pihak.
Baginya, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga sebelum melangkah ke tingkat fakultas.

“Dari proses di himpunan, saya banyak belajar tentang kepemimpinan, komunikasi, dan bagaimana menghadapi dinamika dalam menjalankan program kerja,” tuturnya.
Melalui HIMMAPIK, Rony juga mulai aktif berinteraksi dengan himpunan lain di FBHIS.
Ia terlibat dalam forum-forum lintas program studi yang membahas isu mahasiswa dan pengembangan kegiatan fakultas.
“Di situ saya belajar bahwa organisasi tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi antarhimpunan menjadi kunci agar gerakan mahasiswa lebih kuat,” katanya.
Lihat juga: Pendampingan Transformasi Digital Koperasi Dinar Amanta, Dosen Umsida Dorong Layanan Lebih Cepat
Keputusan Maju sebagai Ketua BEM FBHIS
Keputusan Rony untuk mencalonkan diri sebagai Ketua BEM FBHIS tidak datang secara tiba tiba.
Ia mengaku banyak berdiskusi dengan rekan-rekannya serta melakukan refleksi terhadap peran BEM pada periode sebelumnya.
Menurutnya, BEM memiliki posisi strategis sebagai representasi mahasiswa di tingkat fakultas.
Oleh karena itu, diperlukan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh himpunan dan menjawab kebutuhan mahasiswa.
“Motivasi utama saya adalah mewujudkan BEM FBHIS sebagai ruang kolaborasi, aktualisasi, dan representasi mahasiswa yang progresif, inklusif, serta berdampak,” jelasnya.
Rony menilai bahwa BEM tidak seharusnya hanya berfokus pada kegiatan seremonial.
Ia ingin BEM hadir sebagai jembatan aspirasi mahasiswa sekaligus mitra kritis bagi pihak fakultas.
“Saya ingin BEM benar-benar menjadi jembatan aspirasi mahasiswa dan mitra strategis kampus dalam menciptakan lingkungan akademik yang lebih baik,” tambah Rony.
Perasaan Saat Terpilih
Terpilihnya Rony sebagai Ketua BEM FBHIS menjadi momen yang penuh makna.
Ia mengaku bersyukur atas kepercayaan yang diberikan mahasiswa, sekaligus menyadari besarnya tanggung jawab yang kini berada di pundaknya.
“Alhamdulillah dan terima kasih kepada seluruh mahasiswa FBHIS yang telah memberikan kepercayaan kepada saya,” ujarnya.
Baginya, jabatan tersebut bukan sekadar posisi, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan integritas.
“Ini bukan tentang siapa yang memimpin, tapi bagaimana kepemimpinan itu membawa manfaat bagi mahasiswa,” ujarnya.
Nilai Publik dalam Kepemimpinan
Sebagai mahasiswa Administrasi Publik, Rony merasa disiplin ilmunya sangat memengaruhi cara berpikir dan gaya kepemimpinannya.
Ia menilai nilai integritas dan etika menjadi fondasi utama dalam menjalankan amanah organisasi. “Integritas dan etika adalah bekal utama saya.
Jabatan itu melekat dengan tanggung jawab, jadi harus dijalankan dengan sikap yang benar,” tegas Rony.
Ia juga menyebutkan bahwa berbagai mata kuliah Administrasi Publik memberikan perspektif praktis dalam mengelola organisasi.
“Kepemimpinan sektor publik, teori organisasi, kebijakan publik, sampai manajemen sumber daya manusia sangat membantu saya dalam menjalankan roda organisasi,” jelasnya.
Tantangan Menyatukan Beragam Himpunan
Sebagai Ketua BEM FBHIS, Rony menghadapi tantangan besar dalam menyatukan enam himpunan mahasiswa dengan latar belakang dan budaya organisasi yang berbeda. Ia menyadari bahwa perbedaan tersebut dapat menjadi hambatan, tetapi juga potensi kekuatan.
“Tantangannya berat karena kami berasal dari prodi dan budaya organisasi yang berbeda, tapi justru di situ letak proses belajarnya,” ungkapnya.
Rony menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan sikap saling menghargai dalam menjalankan roda organisasi fakultas.
“Kalau komunikasi dijaga dengan baik, perbedaan justru bisa menjadi kekuatan untuk menghasilkan program yang lebih relevan,” tuturnya.
Harapan dan Program ke Depan
Ke depan, Rony berharap BEM FBHIS dapat menjadi ruang yang inklusif dan partisipatif bagi seluruh mahasiswa.
Ia ingin mahasiswa tidak ragu menyampaikan aspirasi dan terlibat aktif dalam kegiatan fakultas.
“Kami membuka ruang aspirasi seluas-luasnya agar mahasiswa merasa didengar dan dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan,” katanya.
Selain itu, Rony juga berkomitmen mendorong kolaborasi antarhimpunan melalui program program yang berdampak langsung.
“BEM harus menjadi penghubung, bukan sekat. Kami ingin program yang dijalankan benar benar dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa,” pungkasnya.
Selain fokus pada internal organisasi, Rony juga menaruh perhatian besar pada penguatan peran mahasiswa di lingkungan kampus.
Menurutnya, mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi objek kebijakan, tetapi juga subjek yang aktif dalam proses pembangunan lingkungan akademik.
“Mahasiswa punya potensi besar untuk berkontribusi, tapi perlu difasilitasi ruangnya agar bisa berkembang dan berani mengambil peran,” ujarnya.
Dalam kepemimpinannya, BEM FBHIS berupaya mendorong mahasiswa untuk terlibat tidak hanya dalam kegiatan organisasi, tetapi juga dalam program-program pengembangan prestasi akademik dan nonakademik.
Rony menilai, keseimbangan antara akademik dan organisasi menjadi bekal penting bagi mahasiswa menghadapi dunia kerja dan masyarakat.
“Kami mendorong anggota BEM dan mahasiswa FBHIS untuk aktif dalam program prestasi seperti PKM dan PPK Ormawa agar capaian akademik bisa berjalan seiring dengan aktivitas organisasi,” ujarnya.
Rony juga menegaskan bahwa BEM FBHIS membuka ruang partisipasi seluas-luasnya bagi mahasiswa umum, meskipun tidak tergabung secara struktural dalam organisasi.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa tidak boleh dibatasi oleh status keanggotaan.
“Kami ingin mahasiswa umum tetap bisa terlibat, baik melalui kepanitiaan maupun program kerja BEM, karena organisasi ini milik bersama,” ujarnya.
Dalam hal penjaringan aspirasi, BEM FBHIS di bawah kepemimpinannya membentuk mekanisme yang lebih terbuka dan terstruktur.
Aspirasi mahasiswa dihimpun melalui berbagai kanal komunikasi agar dapat ditindaklanjuti secara efektif.
“Kami membuka ruang aspirasi melalui forum dialog, media sosial, dan audiensi langsung agar mahasiswa merasa didengar,” ujarnya.
Aspirasi yang masuk kemudian dikaji bersama dan disinergikan dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), BEM Universitas, serta himpunan mahasiswa sebagai basis gerakan di tingkat program studi.
“Aspirasi tidak berhenti di wacana, tapi kami upayakan untuk dikawal dan dikomunikasikan dengan pihak terkait,” ujarnya.
Menutup refleksinya, Rony mengajak mahasiswa, khususnya mahasiswa Administrasi Publik, untuk memanfaatkan masa kuliah sebagai ruang pembentukan karakter dan kepemimpinan.
Ia menekankan bahwa proses berorganisasi merupakan bagian penting dari perjalanan tersebut.
“Organisasi, diskusi, dan pengabdian bukan beban, tapi ruang belajar yang membentuk kita sebagai calon pemimpin masa depan,” ujarnya.
Penulis: Dzafira rizka Ningrum
Penyunting: Indah Nurul Ainiyah


















