Ap.umsida.ac.id – Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (AP Umsida) kembali mencetak prestasi membanggakan setelah berhasil mempertahankan akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Sosial Politik Administrasi dan Komunikasi (LAMSPAK).
Capaian ini menjadi bukti bahwa konsistensi pengembangan mutu, kerja kolaboratif, dan kontribusi riset dosen berjalan searah dengan standar pendidikan tinggi nasional.
Akreditasi tersebut melalui proses visitasi pada 7–9 November 2025, setelah sebelumnya Prodi AP mengunggah borang pada bulan Agustus. Persiapan dilakukan dengan intensif selama enam bulan sejak instrumen baru LAMSPAK dirilis.

“Yang jelas lega, karena mempertahankan itu lebih sulit daripada meraih,” ujar Hendra Sukmana MKP, Sekretaris Prodi AP Umsida, saat diwawancarai.
Baca juga: Fina Raih Wisudawan Berprestasi Umsida 46 Berkat P2MW Inovasi BowBaci Rainbow
Perjalanan Panjang Menuju Unggul: Tantangan, Kolaborasi, dan Kerja Tim
Menurut Hendra, proses persiapan akreditasi kali ini tidak mudah. LAMSPAK sebagai lembaga baru meresmikan instrumen pada Februari, sehingga tim AP harus bergerak cepat untuk menyusun borang sesuai tata cara terbaru.
Pengerjaan dimulai sejak Maret hingga Agustus, periode singkat yang menuntut kedisiplinan dan koordinasi ketat.

“Lamspak ini kan baru, otomatis setelah peresmian ada instrumen keluar, tata caranya keluar, baru kita kerjakan. Jadi kurang lebih enam bulan pekerjaannya,” jelasnya.
Namun tantangan terbesar bukan pada teknis penulisan borang, melainkan menjaga soliditas tim di tengah keterbatasan waktu serta kondisi personal dosen yang beragam.
“Tantangannya itu menyatukan tim task force, alhamdulillah selesai juga,” ujarnya.
Meski begitu, kultur kerja sama yang kuat menjadi pembeda Prodi AP. Ia menegaskan bahwa akreditasi bukanlah milik satu orang melainkan hasil kerja bersama seluruh dosen.
“Culture di Prodi AP memang kerja sama tim… akreditasi unggul ini adalah hadiah untuk kita semuanya.”
Lihat juga: Perkuat Jejaring Akademik: Esil University Hadir dalam International Guest Lecture FBHIS Umsida
Kontribusi Riset Dosen dan Inovasi Desa Jadi Kekuatan Utama Akreditasi
Salah satu indikator penting LAMSPAK adalah luaran penelitian dosen, khususnya publikasi jurnal internasional terindeks. Prodi AP ternyata mampu memenuhi persyaratan tersebut.
“Minimal 50% dosen harus berkontribusi publikasi jurnal internasional,dan itu menjadi syarat perlu. Apa yang dilakukan dosen selama lima tahun terakhir akhirnya terbayarkan,” jelas Hendra.
Selain penelitian, kekhasan Prodi AP dalam inovasi berbasis desa juga menjadi nilai tambah.
Setiap semester, mahasiswa dan dosen menghasilkan aplikasi dan inovasi kebijakan yang langsung dimanfaatkan pemerintah desa.
Program unggulan tersebut meliputi, Pembuatan aplikasi pelayanan desa kolaborasi dosen dan mahasiswa, FGD rutin yang menghadirkan instansi pemerintah, NGO, dan pakar.
Tak hanya itu, ada juga penerbitan press release kebijakan sebagai bentuk kritik konstruktif kepada pemerintah.
Menjalin kemitraan strategis dengan pemerintah desa, kabupaten, hingga kementerian
Kegiatan non-rutin, seperti program aksesibilitas pemilu bagi penyandang disabilitas, dan turba (turun ke bawah) untuk pendampingan administrasi desa.
Hendra menyebut bahwa Prodi AP bukan hanya mitra strategis pemerintah, tetapi juga mitra kritis yang berperan mengawal kebijakan publik.
“Kami sering mengkritik kebijakan yang salah dari Pemda, itu kita luruskan dan menjadi sarana media kritik bagi dosen dan mahasiswa,” ungkapnya.
Dampak Akreditasi Unggul: Kepercayaan Publik Meningkat
Keberhasilan mempertahankan akreditasi Unggul membawa dampak besar bagi reputasi Prodi AP dan Umsida secara keseluruhan.
Hendra menekankan bahwa kualitas Umsida kini sejajar dengan universitas terkemuka di Indonesia.
“Dengan akreditasi unggul ini, Umsida levelnya sama dengan UI, UGM, UNAIR, BRAWIJAYA, UNDIP masyarakat itu percaya sama kita,” tegasnya.
Ia berharap akreditasi ini meningkatkan kepercayaan masyarakat dan pada akhirnya berdampak pada kenaikan animo mahasiswa baru setiap tahun.
Selain itu, Hendra menyoroti perubahan paradigma pilihan pendidikan masyarakat.
Menurutnya, kualitas pendidikan swasta kini setara, bahkan lebih baik dibandingkan sekolah atau kampus negeri tertentu.
“Paradigma negeri-minded itu sudah hilang, sekarang banyak yang terbaik justru di swasta. Kuliah di Umsida itu berarti menghemat cost bagi masyarakat Sidoarjo dan sekitarnya,” tutup Hendra.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















