ICOPAPER 2026: Ketika Kampus, Bupati, dan Pakar Internasional Duduk Bersama Bedah Ketahanan Asia

ap.umsida.ac.id- The 1st International Conference on Public Administration, Policy, Advocacy, Public Management, Strategic Communication, and Reform (ICOPAPER) resmi dibuka di Hall Sekretariat Daerah Kabupaten Rembang, Kamis 24 April 2026. Konferensi internasional pertama ini jadi ajang kolaborasi Program Studi Administrasi Publik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Universitas Diponegoro serta bekerja sama dengan Pangasinan State University (PSU), Burapha University, dan Universiti Tunku Abdul Rahman (UTAR) untuk merumuskan masa depan tata kelola lokal di Asia.

Membuka acara, Bupati Rembang H. Harno, S.E menyampaikan apresiasi atas kegiatan hebat ini. “Terima kasih atas kehadiran UMSIDA, dan para akademisi internasional. Ini kehormatan besar bagi Pemerintah Kabupaten Rembang,” ujar H. Harno.

Menurutnya, tema Urgency Local Governance Building Resilient and Participatory Communities in Asia sangat relevan dengan kondisi saat ini. “Kegiatan ini jadi momentum penting. Saya percaya, kualitas tata kelola lokal yang kuat adalah fondasi komunitas yang mampu dan siap menghadapi krisis,” tegasnya. Hal ini, lanjut Bupati, sejalan dengan visi Rembang 2029-2030 untuk mewujudkan daerah sejahtera dan berkelanjutan melalui pelayanan publik yang transparan. Ia berharap konferensi melahirkan rekomendasi nyata bagi pemerintah daerah.

ICOPAPER 2026 menghadirkan keynote speaker dari dalam dan luar negeri. Dekan FISIP UNDIP Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin menyebut acara ini membanggakan. “Proses untuk sampai di titik ini tidak mudah. Saya harap konferensi ini memberi dampak bagi isu nasional dan global,” ujarnya.

Dekan FBHIS UMSIDA Dr. Poppy Febriana, S.Sos., M.Med.Kom menambahkan, ICOPAPER adalah agenda global village. “Sekarang eranya digital. Materi hari ini tentang tantangan di governance sangat bermanfaat bagi pemerintah,” katanya.

Dr. Fahrudin, S.H., M.H., CFrA selaku Sekretaris Daerah Rembang
Menekankan keterbukaan publik. “Masyarakat harus tau, tidak lagi hanya jadi objek. Dengan kontrol dan evaluasi, OPD bisa menciptakan pelayanan yang ramah bagi warga,” ujarnya.

Hartuti Purnaweni memaparkan governance value melalui 3 pilar diantaranya akuntabilitas, efektivitas, dan transparansi. “Masalah publik tidak bisa diselesaikan sendiri. Butuh kolaborasi, trust, dan gotong royong. Musyawarah desa di Indonesia adalah praktik baik yang harus terus dikaji,” tegasnya.

Ilmi Usrotin selaku pemateri menyoroti ego sektoral sebagai tantangan terbesar. “Menurunkan ego sektoral memang tantangan kita. Tapi yang lebih penting adalah sama-sama kolaborasi untuk pelayanan yang efisien dan transparan. Komunikasi sangat penting,” ujarnya.

Kenneth Lee Tze Wui mengapresiasi ICOPAPER sebagai first conference. “Saya harap ada rekomendasi kebijakan konkret dari forum ini agar kita lebih kuat menghadapi dinamika global,” ucapnya.

Dr. Noppawan Phuengpha membawa materi Strengthening Local Governance for DRM Networks. Ia menyebut tiga tantangan inti manajemen risiko bencana meliputi koordinasi lemah, kapasitas lokal terbatas, dan ego sektoral. “Solusinya network approach: bangun trust dan jejaring antar pemda, CSO, hingga komunitas. Butuh juga regulasi fleksibel dan participatory planning,” ujarnya.

Zehyna Mae V. Ahmed berbagi praktik baik dari Filipina soal advokasi kebijakan rokok. “Kita butuh literasi dan edukasi. Advocacy do not wait for policy. Suara rakyat penting untuk perubahan berkelanjutan,” jelasnya.

Konferensi yang dimoderatori Renata ini mengerucut pada 3 pilar kebijakan diantaranya kebijakan, komunikasi, dan kolaborasi. Para pembicara sepakat, kunci tata kelola lokal yang tangguh adalah trust, narrative management, dan public engagement.
ICOPAPER 2026 ditutup dengan komitmen menurunkan ego sektoral demi pelayanan publik yang lebih baik. “Good governance dimulai dari daerah. Strong local equals resilient nation,” tutup Ilmi.